SALAM PAPUA (JAKARTA) - Amerika Serikat diproyeksikan tetap
menjadi negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia pada 2026. Dominasi
Negeri Paman Sam dinilai masih sulit digeser berkat kemajuan teknologi
pengeboran serta tingginya investasi di sektor energi.
Berdasarkan proyeksi terbaru yang dikutip dari berbagai
sumber energi internasional, produksi minyak Amerika Serikat diperkirakan
mencapai sekitar 22,8 juta barel per hari. Jumlah itu jauh melampaui Arab Saudi
yang berada di posisi kedua dengan produksi sekitar 12,5 juta barel per hari,
serta Rusia di posisi ketiga dengan 11,2 juta barel per hari.
Di bawah tiga besar, Kanada menempati urutan keempat dengan
produksi sekitar 6,3 juta barel per hari. Brasil berada di posisi kelima dengan
5,2 juta barel per hari, disusul Irak 5,1 juta barel per hari dan Uni Emirat
Arab 5 juta barel per hari.
Tiongkok menempati posisi kedelapan dengan produksi sekitar
4,3 juta barel per hari, sementara Iran berada di urutan kesembilan dengan 4,2
juta barel per hari. Kuwait melengkapi daftar 10 besar dengan produksi sekitar
3,2 juta barel per hari.
Pengamat energi menilai keberhasilan Amerika Serikat menjadi
produsen nomor satu ditopang revolusi shale oil melalui teknologi horizontal
drilling dan hydraulic fracturing atau fracking. Selain itu, kawasan Permian
Basin di Texas dan New Mexico menjadi tulang punggung produksi nasional.
Di sisi lain, Arab Saudi dan Rusia tetap memiliki pengaruh
besar terhadap harga minyak dunia melalui kerja sama OPEC+. Kedua negara kerap
menjadi penentu arah produksi global, sehingga keputusan memangkas atau
menaikkan output dapat langsung memengaruhi harga pasar internasional.
Meski dunia terus mendorong penggunaan energi hijau,
kebutuhan minyak global diperkirakan masih tetap tinggi hingga beberapa tahun
ke depan. Sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan industri berat masih
sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Bagi Indonesia, perkembangan produksi minyak dunia sangat
penting karena berdampak langsung terhadap harga BBM, inflasi, nilai tukar
rupiah, hingga biaya logistik nasional. Sebagai negara importir neto minyak
mentah, setiap gejolak pasokan global dapat berimbas pada perekonomian
domestik.
Dengan kondisi tersebut, peta energi global pada 2026
menunjukkan bahwa minyak bumi masih memegang peran strategis, meski transisi
menuju energi terbarukan terus berjalan. (Sumber: Akurat.co)
Editor: Sianturi

