SALAM PAPUA (TIMIKA)- Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi dalam jangka waktu lama, terutama sejak masa kehamilan hingga usia 2 tahun.

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Papua, termasuk di Kabupaten Mimika. Masalah ini bukan sekadar soal tinggi badan anak yang lebih pendek dibanding usianya, tetapi gambaran nyata dari kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam waktu lama.

Dampaknya jauh lebih besar: kemampuan belajar menurun, daya tahan tubuh lemah, risiko penyakit meningkat, hingga produktivitas saat dewasa menjadi rendah. Jika tidak ditangani serius, stunting akan terus memengaruhi kualitas sumber daya manusia Papua di masa depan.

Di banyak wilayah Papua, stunting berkaitan erat dengan kemiskinan. Ketika pendapatan keluarga rendah, prioritas utama biasanya adalah memenuhi kebutuhan makan seadanya, bukan kualitas gizi. Banyak keluarga hanya mampu membeli beras, mi instan, atau makanan murah yang mengenyangkan, tetapi minim protein, vitamin, dan mineral. Anak-anak akhirnya tumbuh dengan asupan kalori cukup, namun miskin zat gizi penting untuk perkembangan otak dan tubuh.

Di Mimika, kondisi ini masih terjadi baik di sejumlah kampung pedalaman maupun kawasan padat penduduk di pinggiran kota. Harga bahan pangan bergizi seperti telur, ikan segar, susu, dan sayur di beberapa wilayah masih mahal karena distribusi sulit dan ongkos transportasi tinggi. Ketika akses terbatas, keluarga miskin akan memilih makanan termurah. Dalam jangka panjang, anak menjadi rentan mengalami stunting.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Air bersih yang sulit diakses, sanitasi buruk, dan kebiasaan buang air sembarangan meningkatkan risiko diare serta infeksi berulang pada anak. Anak yang sering sakit akan sulit menyerap gizi dengan baik meski sudah makan cukup. Di beberapa wilayah Papua, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan besar. Karena itu, penanganan stunting tidak bisa hanya fokus pada makanan, tetapi juga kebersihan lingkungan dan akses air bersih.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya fasilitas kesehatan. Masih ada kampung yang jauh dari puskesmas, tenaga kesehatan terbatas, atau pelayanan ibu dan anak belum rutin berjalan. Pemeriksaan kehamilan yang tidak optimal membuat ibu hamil berisiko anemia atau kekurangan gizi tanpa terdeteksi. Padahal stunting sering dimulai sejak dalam kandungan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan.

Selain itu, minimnya pengetahuan orang tua mengenai makanan bergizi juga menjadi faktor utama. Tidak sedikit keluarga yang belum memahami pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, makanan pendamping ASI yang tepat, atau variasi makanan bergizi seimbang. Ada anak yang terlalu sering diberi teh manis, biskuit, atau makanan instan karena dianggap praktis. Padahal kebutuhan anak usia dini sangat bergantung pada protein hewani, sayur, buah, dan pola makan teratur.

Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan? Pertama, memperkuat pelayanan kesehatan dasar hingga kampung-kampung. Posyandu harus aktif, kader diberdayakan, dan tenaga gizi diperbanyak. Pemeriksaan ibu hamil, penimbangan balita, imunisasi, pemberian tablet tambah darah, serta pemantauan tumbuh kembang anak harus dilakukan rutin dan terukur.

Kedua, edukasi gizi harus menjadi gerakan besar. Penyuluhan tidak cukup sekali dua kali, tetapi terus menerus melalui puskesmas, gereja, masjid, sekolah, dan tokoh masyarakat. Orang tua perlu diajarkan cara menyusun menu bergizi murah dengan bahan lokal yang tersedia di sekitar mereka. Informasi harus sederhana, praktis, dan sesuai budaya setempat.

Ketiga, pemerintah daerah perlu membuat intervensi ekonomi bagi keluarga rentan. Misalnya bantuan pangan bergizi untuk ibu hamil dan balita, subsidi telur atau ikan, serta program kebun keluarga. Bantuan sosial sebaiknya tidak hanya berupa beras, tetapi juga komponen protein dan nutrisi.

Peran DPRK maupun DPR Papua Tengah juga sangat penting. Lembaga legislatif harus mendorong regulasi dan penganggaran yang berpihak pada penurunan stunting. Mereka dapat membuat perda tentang percepatan penanganan stunting, mengawasi penggunaan anggaran kesehatan, serta memastikan setiap distrik memiliki program gizi yang berjalan nyata. DPR juga dapat mendorong kerja sama dengan perusahaan swasta melalui dana CSR untuk membantu penyediaan makanan bergizi, air bersih, dan sanitasi.

Yang tidak kalah penting adalah memanfaatkan makanan lokal sebagai solusi. Papua memiliki sumber pangan kaya gizi seperti sagu, ubi jalar, keladi, pisang, ikan laut, ikan air tawar, udang, kepiting, sayur hutan, daun kelor, dan buah-buahan lokal. Di Mimika, hasil laut dan sungai sangat melimpah. Jika diolah dengan baik, pangan lokal ini mampu menjadi senjata utama melawan stunting.

Misalnya, bubur sagu dicampur ikan dan sayur dapat menjadi menu balita bergizi tinggi. Ubi jalar kaya energi, ikan kaya protein dan omega-3, daun kelor kaya zat besi, serta pisang kaya kalium dan vitamin. Selain lebih sehat, makanan lokal lebih mudah dijangkau dan sesuai kebiasaan masyarakat. Pemerintah perlu mendorong pelatihan memasak, kebun pangan kampung, serta pasar lokal yang menjual bahan bergizi dengan harga terjangkau.

Stunting di Papua dan Mimika bukan masalah yang tidak bisa diatasi. Namun penanganannya harus menyentuh akar persoalan: kemiskinan, sanitasi, layanan kesehatan, dan pendidikan gizi keluarga. Jika pemerintah serius, DPR mendukung kebijakan, dan masyarakat kembali memanfaatkan pangan lokal, maka generasi Papua yang sehat, cerdas, dan kuat bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan.

Penulis: Sampe Sianturi