SALAM PAPUA (TIMIKA) – Angka kasus malaria di Kampung Wumuka, Distrik Mimika Barat Tengah tergolong tinggi. Tenaga kesehatan di Pustu Wumuka, Mey Yusuf menyebut tingginya kasus dipengaruhi mobilisasi masyarakat yang sangat tinggi, baik para pendulang maupun warga dari kampung sekitar seperti Uta, Kapiraya, dan wilayah lainnya.

“Kasus malaria cukup tinggi, karena mobilisasi warga sangat tinggi,” ujar Mey saat ditemui di Balai Kampung Wumuka, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan warga mudah terpapar malaria. Aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan di luar rumah, sungai, dan hutan menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, masih banyak warga yang tidak menggunakan kelambu saat tidur siang maupun sore hari.

“Kami selalu bagi-bagi kelambu, tapi banyak yang tidak mau pakai,” katanya.

Mey juga mengungkapkan, warga yang sudah terkonfirmasi malaria kerap tidak taat mengonsumsi obat sesuai aturan. Sebagian hanya minum obat satu kali sehari dan tidak mengikuti jadwal yang telah ditentukan.

Untuk memastikan kepatuhan minum obat, petugas medis dari Pustu bersama program Kampung Sehat Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) turun langsung menelusuri pasien hingga ke pantai dan sungai tempat pendulangan emas.

“Kami ikuti mereka sampai ke sungai-sungai tempat mereka mendulang. Kami gunakan perahu ditemani motoris. Kalau ketemu langsung kami tanya, kalau memang belum minum langsung kami bantu,” ujarnya.

Ia menambahkan, stok obat malaria selalu tersedia setiap bulan. Setiap tanggal 25, pihak Pustu mengambil persediaan obat dari Puskesmas Uta.

Selain menangani malaria, petugas kesehatan juga aktif melayani posyandu bayi dan balita. Bahkan, tenaga medis kerap mendatangi warga ke lokasi pendulangan untuk melakukan penimbangan bayi dan balita.

“Memang mereka taat untuk posyandu, tapi terkadang kami yang harus mencari mereka. Kami timbang bayi dan balita di pantai dan tempat dulang,” jelasnya.

Menurut Mey, keluhan kesehatan lain yang sering dialami warga adalah batuk dan pilek, akibat aktivitas luar ruangan dengan kondisi alam berangin, pasir, dan lumpur.

“Kendalanya warga Wumuka selalu hidup berpindah-pindah, sehingga sulit dipantau untuk pengobatan,” tutupnya.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi