SALAM PAPUA (TIMIKA) – Di tangan kreatif anggota Persit Kodim 1710/Mimika, bongkahan batu pyrite yang selama ini dikenal sebagai “emas palsu” justru disulap menjadi aksesori bernilai estetika tinggi dan diminati pasar.

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XXXV Mimika, Rania Jozanda, mengaku bangga dengan kreativitas yang ditunjukkan para anggota Persit sejak awal dirinya bertugas di Mimika.

“Pertama saya melihat kreasi ini, saya sangat bangga. Ini murni buatan ibu-ibu Persit dari batu yang ada di sekitar lingkungan Kodim,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, seluruh hasil karya tersebut rencananya akan dibawa dalam pameran di Jakarta sebagai bentuk promosi sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Diketahui, pembuatan aksesori ini berawal dari eksperimen sederhana. Batu pyrite mentah dengan kilau keemasan alami dirangkai dan dipadukan dengan logam campuran menjadi bros, kalung, hingga gelang.

Tanpa disangka, hasilnya menghadirkan karakter unik tegas namun tetap elegan yang kemudian menarik minat banyak orang.

Popularitas aksesori ini pun berkembang secara alami melalui promosi dari mulut ke mulut. Keunikan desain yang berbeda dari perhiasan pada umumnya menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Selain itu, penggunaan batu pyrite asli Papua memberikan nilai tambah sebagai representasi kekayaan alam lokal yang diolah secara kreatif. Karakter batu yang kuat dipadukan dengan desain modern menghasilkan tampilan yang kerap disebut “gagah namun tetap cantik”.

Produk ini juga kerap menjadi incaran dalam berbagai kegiatan bazar. Mayoritas pembeli berasal dari kalangan Persit Kartika Chandra Kirana di berbagai daerah, sehingga membentuk pasar yang loyal dan terus berkembang.

Dari sisi harga, aksesori berbahan pyrite tergolong terjangkau, menjadikannya alternatif menarik di tengah tren kenaikan harga emas.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis bahan lokal memiliki potensi besar untuk berkembang. Batu pyrite Papua yang sebelumnya kurang dilirik, kini hadir sebagai simbol kreativitas, nilai estetika, dan peluang ekonomi baru.

Lebih dari sekadar perhiasan, setiap karya yang dihasilkan juga membawa cerita tentang kebersamaan, kreativitas, dan potensi yang lahir dari hal-hal sederhana.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi