SALAM PAPUA (TIMIKA)- Nama Raden Ajeng Kartini selalu hadir
setiap bulan April. Sosoknya dipuja sebagai pelopor emansipasi perempuan
Indonesia dan simbol keberanian melawan ketidakadilan, keterbatasan, dan budaya
patriarki yang membelenggu perempuan pada masanya.
Namun, di usia ke-137 tahun peringatan Hari Kartini pada 21
April mendatang, muncul pertanyaan yang lebih relevan: apakah perjuangan
Kartini benar-benar sudah selesai? Atau justru kita masih terjebak dalam
pertarungan panjang antara “Kartini” dan “Kartono”?
“Kartini” adalah simbol perempuan yang ingin maju,
berpendidikan, dan memiliki hak yang setara. Sementara “Kartono” dalam konteks
ini bukanlah individu, melainkan representasi cara pandang lama budaya
patriarki, dominasi laki-laki, dan sistem sosial yang masih menempatkan
perempuan sebagai pihak kedua.
Di kota-kota besar, kita mungkin melihat kemenangan
“Kartini”. Perempuan kini menjadi pemimpin, profesional, bahkan pengambil
keputusan di berbagai sektor. Namun jika menoleh ke wilayah-wilayah seperti
Papua, cerita itu belum sepenuhnya terjadi.
Di Papua, banyak perempuan khususnya mama-mama Orang Asli
Papua (OAP) masih berada dalam posisi yang tidak setara. Mereka bekerja keras
setiap hari, menjual hasil kebun, pinang, atau kerajinan seperti noken. Mereka
menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, tetapi sering kali tidak mendapatkan
perlindungan yang layak.
Persoalan yang mereka hadapi bukan hanya soal ekonomi,
tetapi juga soal ruang. Ruang untuk berjualan, ruang untuk berkembang, dan
ruang untuk diakui. Dalam banyak kasus, ruang itu justru diambil oleh pihak
lain yang memiliki modal lebih besar.
Di sinilah “Kartono” masih kuat. Bukan hanya dalam bentuk
individu laki-laki, tetapi juga dalam sistem yang tidak adil yang membiarkan
perempuan berjuang sendiri tanpa perlindungan yang cukup.
Padahal, emansipasi yang diperjuangkan Kartini bukan sekadar
tentang perempuan bisa bekerja, tetapi tentang keadilan. Tentang kesempatan
yang sama. Tentang pengakuan atas martabat manusia tanpa melihat jenis kelamin.
Surat-surat Kartini yang dihimpun dalam Habis Gelap
Terbitlah Terang menggambarkan betapa ia merindukan dunia di mana perempuan
bisa berpikir bebas dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Mimpi itu hari ini
masih belum sepenuhnya terwujud.
Namun, penting untuk dipahami bahwa “Kartono” bukan musuh
yang harus dilawan, melainkan cara berpikir yang harus diubah. Emansipasi tidak
akan berhasil jika laki-laki ditempatkan sebagai lawan. Justru sebaliknya,
laki-laki harus menjadi bagian dari solusi.
Di sinilah peran generasi masa kini menjadi krusial. Anak
muda baik perempuan maupun laki-laki harus mampu keluar dari pola pikir lama
dan membangun cara pandang baru yang lebih adil.
Bagi laki-laki, menjadi “Kartono baru” berarti berani
meninggalkan ego dominasi dan mulai berjalan sejajar. Mendukung perempuan untuk
berpendidikan, bekerja, dan mengambil peran tanpa merasa terancam. Menghargai
perempuan bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai mitra.
Di Papua, peran laki-laki sangat strategis. Sebagai kepala
keluarga, tokoh adat, maupun pemimpin komunitas, mereka memiliki pengaruh besar
dalam menentukan arah kehidupan sosial. Jika laki-laki mendukung perempuan,
maka perubahan akan jauh lebih cepat terjadi.
Bayangkan jika setiap ayah di Papua memastikan anak
perempuannya bersekolah tinggi. Jika setiap suami mendukung istrinya berjualan
tanpa rasa curiga atau pembatasan. Jika setiap pemimpin adat membuka ruang yang
adil bagi perempuan. Maka “Kartini” tidak lagi berjuang sendiri.
Di sisi lain, perempuan juga perlu terus memperkuat
kapasitas diri. Pendidikan, keterampilan, dan kepercayaan diri menjadi kunci
untuk memanfaatkan peluang yang ada. Emansipasi bukan hanya soal diberi ruang,
tetapi juga kesiapan untuk mengisi ruang tersebut.
Generasi masa kini juga memiliki keunggulan yang tidak
dimiliki Kartini: teknologi. Media sosial, platform digital, dan akses
informasi membuka peluang besar untuk memperjuangkan kesetaraan. Produk
mama-mama Papua bisa dipasarkan lebih luas, suara perempuan bisa didengar lebih
jauh, dan solidaritas bisa dibangun tanpa batas geografis.
Mengisi kemerdekaan hari ini bukan lagi soal mengangkat
senjata, tetapi melawan ketidakadilan dalam bentuk yang lebih halus ketimpangan
akses, diskriminasi, dan stereotip.
Perjuangan Kartini harus dilanjutkan dengan cara yang
relevan. Tidak cukup hanya mengenang, tetapi juga bertindak. Tidak cukup hanya
berbicara, tetapi juga menciptakan perubahan nyata.
“Kartini versus Kartono” bukanlah pertarungan siapa yang
menang dan siapa yang kalah. Ini adalah proses panjang menuju keseimbangan.
Menuju masyarakat di mana perempuan dan laki-laki berdiri sejajar, saling
menghargai, dan bekerja sama.
Di usia 137 tahun ini, mungkin kita perlu jujur bahwa
Kartini belum sepenuhnya menang. Tapi harapan itu masih ada selama generasi
hari ini mau belajar, berubah, dan bergerak bersama.
Dan ketika “Kartini” dan “Kartono” bisa berjalan bersama, di
situlah kemerdekaan yang sesungguhnya akan terasa bagi semua, termasuk
perempuan di tanah Papua.
Penulis: Sampe Sianturi

