SALAM PAPUA (TIMIKA)- Penyakit penis (Mr P) ada beragam dan dapat
terjadi di segala usia. Sebagian penyakit ini tidak berbahaya, tetapi ada juga
penyakit penis yang bisa menyebabkan masalah serius, misalnya gangguan
kesuburan.
Ketika terdapat gangguan pada penisnya, pria bisa mengalami
berbagai gejala, seperti rasa sakit pada penis, sulit buang air kecil, sulit
mencapai orgasme, dan masalah kesuburan atau infertilitas. Selain itu, penyakit
penis juga bisa menyebabkan pria menjadi stres dan kurang percaya diri.
Beragam Jenis Penyakit Penis yang Bisa Terjadi
Penting untuk mengetahui berbagai jenis penyakit penis dan
gejalanya agar Anda bisa mewaspadainya. Berikut ini adalah penyakit penis yang
perlu diketahui:
1. Penyakit menular seksual
Ada berbagai macam penyakit menular seksual pada penis,
seperti chlamydia, gonorea, herpes kelamin, dan sifilis (raja singa).
Penyebabnya bisa karena infeksi bakteri, virus, atau parasit
yang menular dari orang ke orang melalui darah, air mani, atau cairan vagina.
Penyebaran infeksi biasanya terjadi saat melakukan hubungan seks tanpa kondom
dengan orang yang terinfeksi, berhubungan seks dengan banyak pasangan, atau
memiliki riwayat penyakit menular seksual.
Pada kondisi ini, penis mengalami nyeri saat buang air kecil
dan ejakulasi, keluar cairan dari penis yang berbau busuk atau berwarna, sering
merasa ingin buang air kecil, dan ada benjolan atau luka di penis. Tanpa
penanganan yang tepat, penyakit menular seksual bisa menyebabkan gangguan
kesuburan.
2. Penyakit Peyronie
Penyakit Peyronie ditandai dengan terbentuknya benjolan
keras berupa plak di bagian atas atau bawah penis hingga membuat penis
melengkung. Penyakit penis ini menyebabkan penderitanya kesulitan mendapatkan
atau mempertahankan ereksi dan terkadang membuat penis terasa sakit.
Penyebab penyakit Peyronie masih belum diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pria mengalami
penyakit ini, di antaranya cedera atau benturan pada penis, vaskulitis, faktor
penuaan, atau faktor genetik.
3. Priapismus
Priapismus adalah kondisi penis yang mengalami ereksi
terus-menerus selama lebih dari 4 jam sehingga membuat penis terasa sakit.
Priapismus terjadi karena darah yang mengalir ke pembuluh darah area penis
tidak sepenuhnya kembali.
Priapismus bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya
penyalahgunaan narkoba atau minuman beralkohol, anemia, cedera pada penis,
gangguan saraf tulang belakang, atau efek samping obat-obatan tertentu.
Penyakit penis ini harus segera diobati karena bisa membuat
penis cedera atau terluka. Jika tidak ditangani dengan baik, priapismus dalam
jangka panjang bisa menyebabkan komplikasi berupa disfungsi ereksi.
4. Balanitis
Balanitis adalah peradangan di kulup atau kepala penis.
Penyakit ini sering terjadi pada pria yang belum disunat atau kurang menjaga
kebersihan penis.
Pada pria yang tidak disunat, kotoran penis (smegma) lebih
mudah mengendap dan menumpuk di bagian kulit kepala penis. Hal ini bisa memicu
terjadinya infeksi dan peradangan di bagian kepala penis.
Saat mengalami penyakit penis balanitis, Anda akan merasakan
beberapa gejala, seperti nyeri saat buang air kecil, ruam dan kemerahan pada
penis, muncul kotoran seperti lemak tebal di bawah kulup, serta pembengkakan
dan nyeri di sekitar kulup.
5. Phimosis
Phimosis atau fimosis adalah kondisi kulup penis terlalu
ketat hingga tidak dapat ditarik kembali ke atas kepala penis. Penyakit penis
ini masih dikatakan normal, jika terjadi pada bayi dan balita. Namun, jika
menetap sampai remaja atau dewasa, phimosis kemungkinan besar disebabkan oleh
jaringan parut pada kulup.
Phimosis sebenarnya tidak termasuk penyakit penis yang
berbahaya. Namun, jika sampai menimbulkan keluhan tertentu, seperti penis
terasa nyeri dan bengkak, tampak kemerahan, atau sakit saat buang air kecil,
kondisi ini harus segera diobati. Pada orang dewasa, phimosis bisa disebabkan
oleh infeksi di kulup penis.
6. Paraphimosis
Paraphimosis adalah kondisi kulup tidak dapat dikembalikan
ke posisi semula setelah tertarik ke atas kepala penis. Pada kondisi ini,
aliran darah ke penis menjadi terhalang sehingga menyebabkan perubahan warna
ujung penis menjadi keunguan atau kebiruan.
Paraphimosis biasanya terjadi setelah ereksi atau saat
berhubungan seks. Ini merupakan penyakit penis yang termasuk kondisi darurat
dan harus segera ditangani oleh dokter. Jika tidak diobati, paraphimosis bisa
menyebabkan penis nyeri dan bengkak, serta memicu terjadinya kerusakan atau
kematian jaringan.
7. Kanker penis
Kanker penis merupakan penyakit penis yang jarang terjadi.
Namun, jika tidak segera diobati, kanker penis bisa menyebar ke bagian tubuh
atau organ lainnya. Gejala kanker penis awalnya ditandai dengan adanya
benjolan, ruam, atau luka di area penis yang tidak sembuh setelah 4 minggu.
Beberapa gejala lain dari kanker penis yang perlu diwaspadai
adalah perdarahan dari penis atau di bawah kulup, keluar cairan yang berbau
tidak sedap dari penis, pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan,
serta perubahan warna pada kulit penis.
Untuk menghindari penyakit penis, jagalah selalu kesehatan
alat vital dengan rajin membersihkan penis, mendapatkan vaksin HPV, rutin
olahraga, berhenti merokok, menghindari konsumsi minuman beralkohol, serta
memeriksakan penis secara rutin.
Selain itu, penting juga untuk selalu melakukan hubungan
seksual yang aman dengan menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan.
Jika Anda mengalami keluhan yang mengarah pada penyakit
penis, jangan ragu atau malu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui Chat
Bersama Dokter. Konsultasi dapat dilakukan dengan mudah dan tanpa tatap muka.
Nantinya, dokter akan memberikan penanganan dan saran tindakan selanjutnya yang
tepat, agar kesehatan dan fungsi penis Anda tetap terjaga. (Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi

