SALAM PAPUA (TIMIKA) – Harga sejumlah kebutuhan pokok (sembako) di Pasar Sentral Timika, Mimika, Papua Tengah, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga terjadi pada berbagai komoditas, seperti minyak goreng, beras, hingga kacang-kacangan, yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.
Nur, salah seorang pedagang sembako di Pasar Sentral Mimika, mengatakan hampir seluruh barang dagangannya mengalami kenaikan harga. Menurutnya, kenaikan paling terasa terjadi pada minyak goreng yang mengalami lonjakan cukup tinggi di tingkat distributor.
"Minyak goreng naik semua. Yang biasanya sekitar Rp300.000 per karton, sekarang bisa mencapai Rp355.000. Ada juga merek tertentu yang sebelumnya Rp350.000, kini naik menjadi sekitar Rp440.000 per karton," kata Nur, Selasa (21/7/2026).
Untuk penjualan eceran, harga minyak goreng yang sebelumnya berkisar Rp35.000 kini meningkat menjadi sekitar Rp45.000 per liter.
Selain minyak goreng, harga kacang hijau juga mengalami kenaikan dari Rp25.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Lonjakan yang cukup mencolok juga terjadi pada beras ketan. Jika sebelumnya dijual di kisaran Rp450.000 hingga Rp500.000 per karung, kini harganya mencapai lebih dari Rp700.000 bahkan menembus Rp800.000 per karung, tergantung kualitas. Sementara itu, harga beberapa jenis beras lainnya naik sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 per karung.
"Yang naik hampir semuanya. Beras naik, kacang naik, minyak goreng juga naik. Ada yang naik Rp10.000 sampai Rp20.000, bahkan beberapa barang kenaikannya lebih tinggi," ujarnya.
Menurut Nur, kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar. Jumlah pembeli mengalami penurunan, terutama pada siang hingga sore hari.
"Kalau sudah lewat jam 12 siang biasanya mulai sepi. Pembeli sekarang berkurang karena harga barang terus naik," katanya.
Ia menilai masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga. Pengemudi ojek online, buruh harian, dan pekerja dengan pendapatan terbatas harus mengatur pengeluaran lebih ketat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Kasihan rakyat kecil yang penghasilannya pas-pasan. Untuk membeli ikan saja bisa Rp50.000 sampai Rp60.000, kemudian belum lagi beras, minyak, dan sayur. Uang Rp100.000 cepat habis," tuturnya.
Nur juga mengaku sering menerima keluhan dari para pelanggan yang merasa nilai uang mereka semakin kecil akibat mahalnya harga kebutuhan pokok.
"Kadang ada ibu-ibu bilang, 'Bawa uang segini, tapi tidak dapat apa-apa. Beli garam dan minyak saja uang Rp100.000 sudah habis.' Yang paling merasakan dampaknya memang konsumen dan masyarakat kecil," ungkapnya.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, sehingga daya beli masyarakat dapat kembali pulih dan aktivitas perdagangan di pasar berjalan normal.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi