SALAM PAPUA (TIMIKA) - Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), sekolah di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) resmi meluncurkan Pearson Edexcel Program sebagai bagian dari mandatnya menjadi sekolah nasional plus.
Acara Grand Opening digelar di Hall 2 SATP, Jalan Sopoyono, Wonosari Jaya SP4, Kabupaten Mimika, Rabu (29/7/2026).
SATP yang saat ini teknis pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) menjadi sekolah nasional plus dengan penekanan pada kearifan lokal. Program ini berkelanjutan, sebelum Edexcel, SATP telah menjalankan kelas berbasis Bahasa Inggris.
Kurikulum internasional diterapkan selektif di SD dan SMP, mencakup 5 mata pelajaran (Bahasa Inggris, Matematika, Science, Computing, Global Citizenship), meski demikian kearifan lokal tetap dijaga, Bahasa Indonesia, Agama, dan kurikulum kontekstual Papua tetap menjadi akar pendidikan.
Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch menyebut bahwa program ini sebagai capaian luar biasa yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan Mimika.
Ketua Pembina YPMAK ini mengapresiasi segala upaya dan kerja keras yang telah dilakukan oleh YPL untuk mengembangkan SATP.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YPL dan seluruh pihak yang terlibat. Di balik berbagai tantangan, kami melihat banyak sekali capaian positif yang telah diukir SATP,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Perencanaan Program YPMAK, Billy Enerson Korwa menegaskan bahwa langkah ini sebagai upaya membentuk generasi Papua yang menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
“Kami juga memberikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Freeport Indonesia yang senantiasa memberikan dukungan secara masif bagi penyelenggaraan pendidikan, khususnya di SATP,” ungkapnya.
Sedangkan Perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Wilhelmus Monggo mengatakan, program pearson edexcel ini bukan sekadar mengganti kurikulum atau program agar peserta didik lebih cepat menerima materi pembelajaran semata.
“Ini merupakan langkah mendasar dan strategis untuk menghadirkan pendidikan berstandar global atau dunia di tengah tanah Papua,” katanya.
Ketua Yayasan Pendidikan Lokon, Daniel Korompis mengatakan, program Pearson Edexcel bukan sekadar tambahan nama internasional. Karena itu, Yayasan Pendidikan Lokon membawa kurikulum internasional Pearson Edexcel ke SD dan SMP secara selektif dimana SATP memperkenalkan kurikulum ini ke sekitar 25 persen dari anak kelas 4 dan kelas 7.
Daniel menjelaskan siswa-siswi SATP tidak perlu memilih antara berakar kuat di Papua atau maju ke dunia. Anak-anak membutuhkan keduanya. Mereka perlu mengenal tanah, budaya, nilai, dan masyarakatnya. Pada saat yang sama, mereka juga perlu dibekali kunci untuk membuka pintu dunia tersebut.
Pemilihan kurikulum Pearson Edexcel ini didasarkan pada karakteristik unggulan YPL yang sejalan dengan visi di antaranya struktur modular dan asesmen fleksibel.
“Program Pearson hanya berlaku untuk 5 mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Science, Computing dan Global Citizenship. Mata pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia dan pelajaran agama tetap mengikuti kurikulum nasional,” ucapnya.
Kepala SATP, Sonianto Kuddi menyebut bahwa kurikulum Nasional serta Kurikulum SATP berbasis kehidupan kontekstual Papua yang selaras dengan Kurikulum Merdeka ini memberikan akar yang kokoh bagi peserta didik dalam membangun identitasitas mereka sebagai Orang Asli Papua.
“Program pearson edexcel, merupakan program yang memberikan mereka sayap yang luas untuk terbang meraih kesuksesan hingga di kancah internasional,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Jimmy