SALAM PAPUA (TIMIKA) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui evaluasi rutin terhadap program pelayanan bayi baru lahir.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pertemuan Evaluasi Upaya Pengelolaan Kesehatan Ibu dan Anak serta Evaluasi Program Pelayanan Bayi Baru Lahir Tahun 2026 yang digelar di Grand Tembaga Hotel, Jalan Yos Sudarso, Timika, Jumat (14/8/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, para dokter, penanggung jawab KIA, MTBS, Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL), serta perwakilan RSUD, BLUD Puskesmas dan fasilitas kesehatan (faskes) swasta.
Sekretaris Dinkes Mimika, dr. Sisma HL, mengatakan kesehatan ibu dan bayi merupakan rangkaian pelayanan yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, kualitas pelayanan sejak masa kehamilan, persalinan hingga pascakelahiran sangat menentukan keselamatan ibu serta tumbuh kembang anak.
“Pertemuan hari ini menjadi penting karena kita tidak hanya mengevaluasi capaian program dan kualitas data, tetapi juga memastikan bahwa setiap bayi yang telah diskrining mendapatkan tindak lanjut pelayanan yang tepat dan tepat waktu, terutama bayi dengan hasil skrining atau tes konfirmasi yang memerlukan perhatian lebih lanjut,” ungkap dr. Sisma.
Dalam pertemuan tersebut, salah satu fokus evaluasi adalah pelaksanaan Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL), termasuk tindak lanjut terhadap bayi yang memperoleh hasil tes konfirmasi positif untuk sejumlah kondisi, seperti Hipotiroid Kongenital (SHK), Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK), dan Defisiensi G6PD.
Dr. Sisma menegaskan, keberhasilan program skrining tidak hanya diukur dari pengambilan sampel darah tumit maupun keluarnya hasil pemeriksaan laboratorium.
Menurutnya, tahapan yang lebih penting adalah memastikan hasil pemeriksaan diterima oleh pihak terkait dan bayi mendapatkan pemeriksaan lanjutan serta tata laksana medis sesuai indikasi.
“Yang jauh lebih penting adalah memastikan hasil tersebut diterima dan ditindaklanjuti, bayi mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan tata laksana sesuai indikasi, serta terdapat koordinasi yang baik antara Puskesmas, rumah sakit, klinik, keluarga, dan Dinas Kesehatan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta membahas secara terbuka berbagai kendala yang ditemui dalam pelaksanaan program di lapangan. Kendala tersebut mencakup cakupan pelayanan, kelengkapan data, proses pengiriman sampel hingga pemantauan setelah hasil pemeriksaan diterima.
Hal ini dinilai penting agar tidak ada bayi dengan hasil skrining yang membutuhkan perhatian lebih lanjut justru terputus dari rantai pelayanan kesehatan.
Melalui forum evaluasi tersebut, Dinkes Mimika mengharapkan adanya rencana tindak lanjut yang konkret dari setiap fasilitas kesehatan. Setiap fasilitas diharapkan mengetahui status bayi yang berada di wilayah tanggung jawabnya dan memastikan proses pelayanan berjalan hingga tahap penanganan yang diperlukan.
“Saya juga mengharapkan adanya penguatan koordinasi sehingga pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Kabupaten Mimika semakin terintegrasi, berkualitas, dan berkesinambungan,” harap dr. Sisma.
Dinkes Mimika berharap forum tersebut dapat menghasilkan solusi bersama terhadap berbagai tantangan teknis maupun administratif dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, sekaligus memperkuat sistem pelayanan agar setiap bayi mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi