SALAM PAPUA (TIMIKA) – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) terus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal. Tahun 2026, Disbudparekraf Mimika membangun dua sanggar budaya di wilayah pesisir sebagai ruang untuk menjaga keberlangsungan seni anyam dan ukir khas masyarakat Mimika.
Kepala Disbudparekraf Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan dua sanggar tersebut dibangun di Kampung Mimika, Distrik Mimika Barat, serta kawasan Poumako.
Sanggar yang dibangun di Kampung Mimika diarahkan untuk mendukung pengembangan seni anyam dan ukir Kamoro, sementara Sanggar Tikiri di kawasan Poumako menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan keterampilan dan karya budaya lokal.
“Tahun ini kita bangun sanggar di wilayah pesisir, sanggar anyam dan ukir. Pembangunan sanggar ini menjadi bukti pelestarian seni budaya di Mimika,” ujar Elisabeth, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, pembangunan sanggar tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan gedung. Lebih dari itu, sanggar diharapkan menjadi ruang bersama bagi para pengrajin senior untuk tetap berkarya sekaligus mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda.
Elisabeth mengatakan, keberadaan sanggar diharapkan dapat mempertemukan para orang tua dan pengrajin berpengalaman dengan anak-anak serta pemuda yang ingin mempelajari seni tradisional.
Dengan demikian, proses pewarisan budaya tidak hanya berlangsung melalui cerita, tetapi melalui praktik langsung. Generasi muda dapat melihat, mencoba, dan memahami proses pembuatan karya seni yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Mimika.
“Pembangunan ini bukan sekadar fisik, tetapi menjadi wadah bersama agar orang tua dan pengrajin senior dapat berkarya, sementara anak-anak dan pemuda hadir untuk belajar dan mencintai warisan leluhur sejak dini,” jelasnya.
Selain membangun fasilitas, Disbudparekraf Mimika juga menyalurkan sejumlah peralatan kerja untuk mendukung aktivitas para pengrajin. Peralatan tersebut antara lain kapak, pahat, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan dalam proses pembuatan karya seni.
Bantuan peralatan tersebut diharapkan dapat mengurangi kendala yang selama ini dihadapi para pengrajin dalam memperoleh perlengkapan kerja.
Elisabeth menilai pelestarian seni anyam dan ukir membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Jika proses pewarisan keterampilan tidak dilakukan secara konsisten, berbagai pengetahuan tradisional yang selama ini diwariskan antargenerasi berpotensi semakin berkurang.
Karena itu, keberadaan sanggar diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas budaya sekaligus ruang pembelajaran bagi generasi muda di wilayah pesisir.
“Langkah strategis ini kami harapkan dapat menjamin keterampilan anyam dan ukir khas Mimika tetap hidup dan diwariskan secara utuh dari satu generasi ke generasi berikutnya,” pungkas Elisabeth.
Melalui pembangunan dua sanggar tersebut, Pemkab Mimika berharap seni anyam dan ukir tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif masyarakat lokal.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi