SALAM PAPUA (BANGKOK) – Bertambahnya usia bukan berarti harus berhenti bermimpi dan berprestasi. Dua perempuan inspiratif, Cecelia Siby, Anak Gunung Tembagapura (AGute) Kabupaten Mimika, Papua Tengah dan rekannya dari Jakarta, Mia Lukmanto membuktikan hal itu lewat perjuangan mereka di ajang Hyrox Bangkok 2026, dengan catatan waktu yang terus membaik berkat konsistensi latihan dan pola hidup sehat.
Di usia 50-an, keduanya justru mampu menunjukkan performa terbaik dalam perjalanan mereka mengikuti Hyrox. Catatan waktu yang sebelumnya mencapai 2 jam 4 menit pada Hyrox Singapura Juni 2025 terus dipangkas hingga menjadi 1 jam 49 menit di Hyrox Bangkok 2026.
Mia dan Cecelia turun pada kategori Women's Doubles, kategori yang memungkinkan dua peserta bekerja sama menyelesaikan seluruh rangkaian perlombaan. Hyrox sendiri merupakan kompetisi kebugaran yang menggabungkan lari dan latihan kekuatan dalam satu rangkaian.
Klasemen dimana Mia Lukmanto dan Cecelia Siby berada pada peringkat ketiga di Hirox Bangkok (Salampapua.com/Dokumen Mia dan Cecelia) Peserta harus menempuh lari sejauh 8 kilometer yang dibagi menjadi delapan segmen lari satu kilometer dan diselingi delapan stasiun latihan fungsional. Format perlombaan tersebut sama di seluruh dunia, sehingga catatan waktu peserta dapat menjadi ukuran kemampuan yang berlaku secara internasional.
Hyrox juga menerapkan kelompok usia yang berjenjang setiap lima tahun. Kelompok usia tersebut bahkan tersedia hingga peserta berusia 89 tahun. Bagi Mia dan Cecelia, sistem ini memberikan ruang bagi peserta untuk berkompetisi sesuai kelompok usia masing-masing.
Konsistensi Latihan Jadi Kunci
Kepada SalamPapua.com, Cecelia Siby menjelaskan keberhasilan mereka di Bangkok merupakan buah dari konsistensi dalam berlatih yang dibarengi dengan nutrisi yang tepat.
Menurut Cecelia, tantangan tersendiri dalam kompetisi tersebut adalah mereka harus bersaing di kelas usia 50-54 tahun.
“Usia bukan penghalang untuk berprestasi asalkan rajin berlatih dengan disiplin serta diimbangi dengan nutrisi serta konsisten,” ujar Cecelia.
Cecelia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah lima kali mengikuti Hyrox. Baginya, mengikuti kompetisi tersebut bukan hanya soal mengejar catatan waktu, tetapi juga menjaga kebugaran dan menikmati proses.
“Bisa jadi ada benarnya, karena dulu ke mana-mana jalan kaki. Puji Tuhan, di umur yang sudah tidak muda lagi saya masih bisa tetap berolahraga, dengan finish strong dan happy,” kata Cecelia.
Ia mengatakan, olahraga kini telah menjadi bagian dari rutinitasnya. Konsistensi tersebut membuat persiapan menuju kompetisi tidak harus dilakukan secara berlebihan.
Dalam persiapan menuju Bangkok, Mia dan Cecelia tidak melakukan persiapan khusus karena latihan telah menjadi rutinitas mereka hampir setiap hari. Latihan dilakukan dengan mengombinasikan strength training dan lari.
Untuk strength training, keduanya berlatih bersama Mahartono Setyadarma, sedangkan latihan lari dibimbing Hendri Pardede. Mereka juga memperhatikan sejumlah hal dasar seperti asupan protein, pola makan dan waktu tidur. Pada fase perimenopause, keduanya turut memperhatikan kebutuhan tubuh untuk pemulihan.
Berawal dari Rasa Suka
Sementara itu, Mia Lukmanto mengatakan Hyrox menjadi pilihan mereka karena berawal dari rasa suka terhadap olahraga yang kemudian ditekuni lebih serius sejak sekitar setahun lalu.
Menurut Mia, pengalaman tersebut juga dapat menjadi dorongan bagi anak-anak muda untuk memilih dan menekuni olahraga yang mereka sukai.
“Bagi anak-anak muda tekuni saja apa yang disukai, gak harus Hyrox. Bisa bola, tenis, atau cabor lain sehingga bisa ditekuni lebih serius hingga membuahkan prestasi,” ujar Mia.
Menurutnya, olahraga tidak harus selalu berujung pada prestasi besar. Hal yang paling utama adalah menjaga kesehatan, sementara prestasi menjadi nilai tambah dari proses tersebut.
“Yang paling penting adalah sehat dan berprestasi maka itu menjadi sesuatu yang baik,” lanjut Mia.
Bukan Atlet Profesional
Mia dan Cecelia menegaskan bahwa mereka bukan atlet profesional. Keikutsertaan dalam Hyrox justru berangkat dari keinginan untuk membuktikan bahwa perempuan di usia 40-an hingga 50-an tetap dapat memiliki target dan mencapai target tersebut.
Peningkatan catatan waktu mereka hingga 15 menit dalam 14 bulan menurut keduanya bukan semata-mata tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang konsistensi.
Perjalanan tersebut tercatat dari Hyrox Singapura Juni 2025 dengan waktu 2 jam 4 menit, kemudian menjadi 1 jam 59 menit pada Hyrox Singapura November 2025.
Selanjutnya, pada Hyrox Hong Kong Mei 2026, catatan waktu mereka kembali membaik menjadi 1 jam 53 menit, sebelum akhirnya mencapai 1 jam 49 menit di Bangkok.
“Peningkatan 15 menit dari 14 bulan itu bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling konsisten,” demikian pesan yang disampaikan keduanya.
Pesan untuk Anak-Anak Papua
Pengalaman tersebut juga membuat Mia dan Cecelia ingin mendorong anak-anak muda, khususnya yang memiliki kemampuan fisik, untuk berani menekuni olahraga secara lebih serius.
Menurut mereka, kekuatan fisik alami memang dapat menjadi modal awal, tetapi konsistensi latihan menjadi faktor penting yang menentukan perkembangan seorang atlet.
“Hyrox tidak mengukur bakat. Ia mengukur konsistensi. Kekuatan fisik alami memang memberi titik awal yang lebih baik, tetapi yang menentukan catatan akhir adalah kemampuan bertahan dan menjaga kualitas latihan,” kata mereka.
Mereka juga menilai standar Hyrox yang sama di berbagai negara menjadi peluang bagi siapa pun untuk mengukur kemampuan secara objektif. Jarak, beban dan repetisi yang dihadapi peserta sama, baik ketika berlomba di Bangkok, Hong Kong maupun Singapura.
Karena itu, menurut keduanya, tidak ada kata terlambat untuk memulai.
“Kami memulai di usia 50-an. Kalau kami bisa memulai di titik itu, anak muda dengan fisik yang sudah kuat punya ruang yang jauh lebih besar untuk berkembang,” ujar mereka.
Usia Bukan Alasan Berhenti
Mia dan Cecelia juga merupakan pendiri We Pause We Rise, platform komunitas perempuan Indonesia yang berfokus pada edukasi, dukungan dan normalisasi percakapan seputar perimenopause dan menopause.
Melalui komunitas tersebut, keduanya mendorong perempuan agar tidak merasa harus mengecilkan impian hanya karena usia.
Bagi mereka, fase perimenopause dan menopause memang membawa perubahan pada tubuh, termasuk kebutuhan pemulihan yang lebih panjang. Namun, perubahan tersebut bukan berarti target harus diturunkan.
Capaian di Hyrox Bangkok 2026 menjadi bukti perjalanan tersebut. Dari latihan yang konsisten, pola makan yang dijaga, hingga keberanian untuk tetap memiliki target di usia 50-an, Mia dan Cecelia menunjukkan bahwa bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Bagi keduanya, olahraga pada akhirnya bukan hanya tentang mencetak waktu terbaik, tetapi juga tentang tetap sehat, menikmati proses dan membuktikan bahwa siapa pun masih bisa berprestasi selama mau berlatih dengan disiplin dan konsisten.
Penulis/Editor: Sianturi