SALAM PAPUA (DEIYAI) – Terkait konflik yang terjadi di
Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, antara Suku Mee dan Kamoro, Gereja Kemah
Injil Indonesia (KINGMI) di Tanah Papua menyerukan perdamaian serta meminta
semua pihak menahan diri.
Seruan damai tersebut disampaikan karena konflik yang
terjadi dinilai bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ajaran Tuhan. Pihak
gereja berharap pertikaian tidak meluas sehingga tidak lagi menimbulkan korban
jiwa maupun kerugian harta benda.
“Gereja menyerukan perdamaian dalam konflik horizontal di
Distrik Kapiraya dan mendesak agar semua pihak menahan diri tanpa saling
serang. Karena itu akan mengakibatkan korban jiwa tak berdosa berjatuhan dan
korban harta benda,” kata Koordinator KINGMI Deiyai, Pdt. Pelipus, didampingi
sejumlah umat di Waghete, Jumat siang (13/2/2026).
Gereja KINGMI juga mendesak aparat keamanan untuk mengungkap
pelaku pembunuhan terhadap Pdt. Neles Peuki yang terjadi beberapa bulan lalu di
Kapiraya.
“Kami mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk segera
memfasilitasi pertemuan antara Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Mimika.
Pemerintah harus mengambil keputusan yang bijak dalam proses penyelesaian tapal
batas antara Deiyai dan Mimika,” tegas Pdt. Pelipus.
Menurutnya, penyelesaian konflik harus dilakukan secara
menyeluruh, termasuk persoalan tapal batas adat serta aktivitas pertambangan
ilegal yang disebut semakin marak di Distrik Kapiraya, agar kejadian serupa
tidak terulang di masa mendatang.
Gereja KINGMI juga meminta aparat keamanan bertindak
profesional dan netral sesuai tugas pokoknya, yakni melayani, mengayomi, dan
melindungi masyarakat.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi

