SALAM PAPUA (TIMIKA) – Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong,
menegaskan pentingnya pelibatan lintas sektor dalam pembentukan Tim Satuan
Tugas (Satgas) Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan untuk
memastikan program nasional tersebut berjalan efektif, transparan, dan tepat
sasaran di Kabupaten Mimika.
Penegasan itu disampaikan Kemong saat memimpin rapat
pembentukan Satgas MBG di Ruang Rapat Pusat Pemerintahan (Puspem) Mimika, Jalan
SP3, Kamis (12/2/2026).
“Program MBG ini sudah berjalan sejak 2025. Namun hari ini
kita bentuk tim Satgas yang terdiri dari beberapa perwakilan, termasuk Tim PKK,
agar ada kesamaan persepsi sehingga pelaksanaan program berjalan optimal dan
akuntabel,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut juga dibahas penentuan titik
pembangunan dapur MBG yang akan diajukan bersama investor melalui Satgas untuk
memperoleh surat keputusan dan persetujuan pembangunan dari pemerintah pusat.
Pemkab Mimika juga mendorong keterlibatan investor lokal guna memaksimalkan
pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
“Kalau bisa kita prioritaskan investor lokal yang mampu.
Investor yang membangun dapur MBG diberi waktu 45 hingga 60 hari untuk
menyelesaikan pembangunan. Setelah itu dapur akan diverifikasi kelayakannya
sebelum mulai beroperasi,” jelasnya.
Terkait penyediaan lahan, dapur MBG dapat dibangun di atas
lahan milik Pemda, pemerintah kampung, maupun lahan pribadi. Jika menggunakan
lahan pemerintah, sistemnya pinjam pakai tanpa sewa. Sementara apabila berdiri
di atas lahan pribadi, investor wajib membayar sewa sesuai kesepakatan.
Untuk pengelolaan, yayasan lokal dari berbagai latar
belakang agama diperbolehkan menjadi pengelola, selama memiliki legalitas
lengkap seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP aktif. Pelibatan masyarakat
lokal dinilai penting guna mencegah potensi konflik sosial.
“Kita harus libatkan yayasan dan masyarakat lokal. Kalau
ambil dari luar bisa menimbulkan konflik,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh tahapan pelaksanaan program harus
mengikuti mekanisme serta aturan pertanggungjawaban yang berlaku, mengingat
anggaran MBG bersumber dari APBN.
“Kita tentu ingin cepat, tetapi karena ini menggunakan dana
APBN, mekanismenya harus jelas dan pertanggungjawabannya juga harus jelas,”
tutup Kemong.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

