SALAM PAPUA (INTAN JAYA) - Kondisi pendidikan di wilayah pedalaman kembali menjadi sorotan. SD Negeri Inpres Unabundoga yang berada di Kampung Unabundoga, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya dilaporkan mengalami kerusakan berat pada bangunan sekolah serta kekurangan fasilitas belajar dan tenaga pendidik.

Di tengah besarnya alokasi Dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk pembangunan di Papua, kondisi sekolah tersebut dinilai memprihatinkan. Bagian luar dan dalam gedung sekolah terlihat rusak, papan-papan bangunan lapuk dan terbongkar, sementara fasilitas seperti meja, kursi, serta papan tulis tidak tersedia.

Seorang guru tenaga kontrak daerah program Mapega, Wendius Wandikbo mengatakan aktivitas belajar di sekolah itu sempat berhenti sejak 2015 dan baru kembali aktif pada November 2025 setelah kepala sekolah baru dilantik serta dua guru Mapega mulai bertugas.

“Untuk tenaga pendidik dua orang guru sudah direkrut dari pihak sekolah atau kepala sekolah. Itu bukan PNS, tetapi honorer di sekolah,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, pada Januari 2026 kepala sekolah baru memerintahkan pembersihan lingkungan sekolah, kemudian pada Februari dilakukan kerja bersama warga setempat untuk mengaktifkan kembali sekolah.

Menurutnya, kegiatan belajar kini mulai berjalan dengan dukungan guru, murid, dan orang tua. Sebagian siswa bahkan sudah mulai mampu membaca dan menulis.

Namun kondisi gedung sekolah disebut sangat memprihatinkan. Bangunan yang sebagian besar menggunakan papan kayu sudah banyak terbongkar. Jendela kaca dan pintu tidak ada, sementara sebagian struktur bangunan telah lapuk.

“Gedung sudah rusak parah, namun setelah kami guru bersama warga Kampung Unabundoga turun langsung bersihkan lingkungan sekolah sambil pendataan murid,” katanya.

Saat ini jumlah siswa yang telah didata mencapai lebih dari 115 anak dan masih terus bertambah. Meski proses belajar sudah dimulai, para siswa terpaksa belajar dengan fasilitas seadanya.

“Di dalam gedung tidak ada kursi, meja, tidak ada papan tulis. Siswa saat belajar mereka duduk di atas alas papan saja,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa rumah dinas guru tidak tersedia, sehingga para tenaga pendidik harus datang dari tempat yang jauh untuk mengajar.

Meski demikian, Wendius menegaskan dirinya bersama guru lain tetap berkomitmen mengabdi demi masa depan anak-anak di daerah tersebut.

“Kami guru senang mendidik, mengabdi dan mengajar generasi emas ini, karena mereka adalah generasi tulang punggung masa depan daerah, provinsi, nasional, dan internasional,” tegasnya.

Ia meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Intan Jaya maupun Pemerintah Provinsi Papua Tengah, khususnya melalui dinas terkait, untuk membantu pembangunan gedung sekolah, pengadaan fasilitas belajar, seragam, alat tulis, dan buku pelajaran.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Unabundoga, Yan Weya mengapresiasi kehadiran para guru yang kembali mengaktifkan sekolah tersebut.

Menurutnya, Distrik Agisiga merupakan wilayah yang aman dan masyarakat memiliki keinginan kuat agar pendidikan kembali berjalan normal.

Ia berharap pemerintah segera memfasilitasi pembangunan sekolah karena akses pengangkutan material melalui jalur darat sangat sulit.

Saat ini, sekolah hanya ditopang empat orang guru, terdiri dari dua guru Mapega dan dua guru rekrutan sekolah yang merupakan putra asli daerah. Mereka mengajar tanpa dukungan honor dari pemerintah daerah.

Penulis: Elias Douw

Editor: Sianturi