SALAM PAPUA (TIMIKA) – PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Federasi Sepak Bola Belanda
(KNVB) menggelar Coaching Clinic bagi 15 pelatih dan siswa Papua Football
Academy (PFA) di Mimika Sport Complex (MSC), Timika, Papua Tengah, pada 28–30
Mei 2026.
Kegiatan yang diinisiasi PTFI selaku pembina PFA tersebut
menghadirkan dua instruktur KNVB, yakni Piet de Jong dan Andre Simmelink.
Sebanyak 15 pelatih yang mengikuti pelatihan terdiri atas tujuh pelatih PFA,
lima pelatih Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), dan tiga pelatih Yayasan
Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Kuala Kencana.
Penutupan Coaching Clinic dihadiri Wakil Ketua Umum PSSI,
Ratu Tisha Destria, Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers, serta mantan pemain
Tim Nasional Indonesia, Titus Bonai dan Yohanes Ferinando Pahabol.
Dalam sambutannya, Ratu Tisha mengajak para peserta untuk
memiliki mimpi besar dan terus berupaya mencapai level tertinggi dalam dunia
sepak bola.
“Karena sudah dilatih oleh KNVB, tanamkan dalam diri kalian
bahwa suatu hari nanti kalian bisa mengalahkan Belanda. Kalian harus memiliki
semangat dan mimpi yang besar,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen PTFI sebagai pendiri dan
pembina PFA yang telah menyediakan fasilitas olahraga berkualitas bagi generasi
muda Papua. Menurutnya, para pemain Papua harus tetap mempertahankan identitas
dan karakter budayanya agar dikenal hingga tingkat internasional.
“PTFI telah memberikan dukungan yang luar biasa. Karena itu,
tunjukkan bahwa PFA dari Tanah Papua untuk Indonesia mampu menghadirkan sepak
bola dengan disiplin dan rasa hormat yang tinggi. Buktikan bahwa PFA layak
mendapatkan kepercayaan dan mampu meraih prestasi,” kata Ratu.
Direktur Teknik PSSI, Alexander Zwiers, berharap ilmu dan
pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan sekaligus dibagikan
kepada pemain dan pelatih lainnya.
“Fasilitas yang diberikan PTFI sudah sangat baik, begitu
pula dengan kualitas pelatih yang mendampingi kalian. Sekarang yang terpenting
adalah bagaimana memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dan tidak ragu
mewujudkan mimpi,” ujarnya.
Sementara itu, instruktur KNVB Piet de Jong menilai para
siswa PFA memiliki potensi besar untuk berkembang hingga level tertinggi sepak
bola.
“Kalian harus percaya bahwa mimpi itu dapat tercapai. Saya
yakin kalian mampu membuktikan bahwa sepak bola Papua berada pada level
terbaik,” ungkapnya.
Senior Vice President (SVP) Sustainable/Community
Development PT Freeport Indonesia, Nathan Kum, mengatakan kegiatan tersebut
merupakan bagian dari kemitraan antara PTFI dan PSSI untuk meningkatkan
kapasitas pelatih sekaligus mengembangkan kemampuan teknis dan strategi
permainan para peserta.
Menurut Nathan, Coaching Clinic tahun ini merupakan
penyelenggaraan kedua setelah pertama kali digelar pada 2025.
“Tahun lalu kegiatan ini hanya melibatkan 11 pelatih dari
PFA. Tahun ini peserta diperluas dengan melibatkan pelatih dari YPJ Kuala
Kencana dan SATP yang juga berafiliasi dengan PTFI,” jelasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah
mengikuti pelatihan selama tiga hari bersama instruktur KNVB. Ia berharap ilmu
yang diperoleh dapat meningkatkan kualitas latihan maupun performa tim di
masing-masing sekolah dan akademi.
Salah satu peserta, siswa SATP kelas X, Laban Samuel Yane,
mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti Coaching Clinic.
“Pelatihan yang diberikan sangat detail dan membuka wawasan
saya mengenai pengembangan sepak bola. Ini menjadi pengalaman yang sangat luar
biasa bagi saya,” ujarnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

