SALAM PAPUA (TIMIKA)- Bunuh diri bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Ia biasanya merupakan puncak dari tekanan emosional yang menumpuk, rasa putus asa yang berkepanjangan, serta perasaan kehilangan harapan. Baik pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, tindakan ini sering kali berakar pada persoalan kesehatan mental yang tidak tertangani dengan baik, diperparah oleh kondisi sosial dan lingkungan.

Salah satu pemicu paling umum adalah depresi. Banyak orang yang mengalami depresi tampak “baik-baik saja” dari luar, padahal di dalam mereka merasa hampa, tidak berharga, atau menjadi beban bagi orang lain. Pada anak dan remaja, depresi bisa terlihat melalui perubahan perilaku: menarik diri, mudah marah, kehilangan minat belajar, atau prestasi yang menurun. Tekanan akademik, perundungan, konflik pertemanan, hingga paparan media sosial yang memicu perbandingan diri turut memperbesar risiko.

Pada orang dewasa, persoalan ekonomi, kehilangan pekerjaan, konflik rumah tangga, perceraian, hingga kehilangan orang tercinta sering menjadi faktor dominan. Budaya yang menuntut seseorang untuk selalu kuat membuat banyak orang memendam masalah tanpa mencari bantuan. Akibatnya, tekanan emosional terus menumpuk tanpa saluran yang sehat.

Selain itu, pengalaman traumatis, kekerasan, penyalahgunaan zat, serta riwayat gangguan mental dalam keluarga juga meningkatkan risiko. Yang perlu dipahami, bunuh diri jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Biasanya terdapat kombinasi antara tekanan eksternal, kerentanan psikologis, dan minimnya dukungan sosial.

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting.

Pertama, membangun komunikasi yang terbuka dan empatik. Mendengarkan tanpa menghakimi adalah langkah awal pencegahan. Banyak orang enggan berbagi karena takut disalahkan atau diremehkan. Kalimat sederhana seperti “Saya ada untuk kamu” dapat menjadi penguat yang sangat berarti.

Kedua, peka terhadap tanda bahaya. Perubahan perilaku drastis, ucapan tentang keinginan mati, merasa tidak berguna, atau membagikan barang berharga perlu ditanggapi serius. Bertanya secara langsung dengan penuh empati justru membantu membuka ruang dialog.

Ketiga, hilangkan stigma terhadap bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater bukan tanda kelemahan. Justru itu adalah langkah berani untuk pulih.

Namun, pembahasan tidak berhenti pada pencegahan. Kita juga perlu berbicara tentang pemulihan bagi mereka yang selamat dari percobaan bunuh diri.

Orang yang selamat sering menghadapi rasa malu, bersalah, bahkan penolakan sosial. Mereka bisa merasa lebih terisolasi setelah kejadian tersebut. Oleh karena itu, langkah pertama dalam pemulihan adalah menciptakan lingkungan yang aman secara emosional. Hindari menyalahkan atau mengungkit kejadian sebagai aib keluarga. Fokuslah pada keselamatan dan kesehatan mereka.

Pendampingan profesional menjadi sangat penting. Terapi psikologis membantu individu memahami akar masalah, membangun kembali harapan, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat. Dalam beberapa kasus, pengobatan juga diperlukan untuk menstabilkan kondisi mental.

Keluarga juga perlu terlibat aktif dalam proses pemulihan. Buat rutinitas yang terstruktur, ajak berbicara secara rutin, dan dorong aktivitas yang membangun makna hidup—seperti kegiatan sosial, ibadah, olahraga, atau hobi. Yang terpenting, bangun kembali rasa harga diri mereka secara perlahan.

Pemulihan bukan proses instan. Ada kemungkinan munculnya kembali pikiran negatif. Karena itu, dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan. Jangan pernah menganggap bahwa setelah satu periode membaik, semuanya sudah selesai.

Pada akhirnya, bunuh diri bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan kemanusiaan bersama. Setiap orang membutuhkan rasa diterima, didengar, dan dicintai. Dengan komunikasi yang sehat, kepedulian nyata, serta keberanian mencari bantuan profesional, kita tidak hanya dapat mencegah tragedi, tetapi juga membantu mereka yang pernah berada di ambang kehilangan harapan untuk menemukan kembali alasan untuk hidup.

Penulis: Sianturi