SALAM PAPUA (TIMIKA)- Rusia siap melakukan uji coba drone
stratosfer terbaru bernama Argus pada Maret ini, sebuah langkah strategis untuk
mematahkan dominasi layanan satelit Starlink milik SpaceX di medan tempur.
Drone ini dirancang untuk beroperasi di lapisan stratosfer, jauh di atas
jangkauan pertahanan udara konvensional, dan berfungsi sebagai "satelit
semu" (pseudo-satellite).
Tujuan utamanya adalah menyediakan jaringan komunikasi
terenkripsi dan transmisi data berkecepatan tinggi bagi pasukan darat di area
di mana infrastruktur komunikasi tradisional telah hancur atau disabotase.
Argus memiliki keunggulan pada durasi terbang yang sangat
lama (high-endurance) berkat penggunaan panel surya dan efisiensi energi yang
tinggi. Dalam peran tempurnya, Argus mampu melakukan pengawasan area secara
kontinu (persistent surveillance) serta menjadi relay sinyal bagi drone serang
lainnya. Teknologi ini dianggap sebagai jawaban langsung terhadap
ketergantungan Ukraina pada Starlink, dengan menawarkan sistem komunikasi yang
lebih mandiri dan lebih sulit dideteksi atau diganggu oleh perangkat peperangan
elektronik lawan.
Kehadiran Argus menandai babak baru dalam perlombaan
teknologi dirgantara Rusia. Dengan biaya operasional yang jauh lebih murah
daripada meluncurkan satelit baru ke orbit, drone stratosfer ini memberikan
fleksibilitas taktis yang luar biasa.
Jika uji coba ini berhasil, Rusia diprediksi akan
mengerahkan armada Argus secara massal untuk menciptakan "kubah
komunikasi" di zona konflik, sekaligus mempertegas ambisi Moskow dalam
menguasai ruang udara tinggi guna mendukung operasi militer skala besar secara
real-time. (Sumber: Indomiliter)
Editor: Sianturi

