SALAM PAPUA (TIMIKA) – Langkah kaki yang telah melintasi pulau-pulau, gunung, dan lembah di bumi Papua kembali menginjak tanah Kuala Kencana. Di bawah langit yang biru membentang luas, Barnabas Suebu, atau yang akrab disapa Bas Suebu, di tengah serangkaian kegiatannya di Timika, kini berjalan bersama sejumlah rekan profesor, menyempatkan diri mendatangi Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), pada Rabu (26/8/2026).
Di hadapannya berdiri bangunan yang bukan sekadar tembok dan atap, melainkan bukti nyata sebuah perjuangan panjang, mimpi agar anak-anak tanah ini tak lagi menjadi penonton di tanah sendiri.
Bas Suebu bersama rombongan disambut hangat oleh perwakilan manajemen PT Freeport Indonesia, Andi Sallo dan Melki Magai. Senyum yang terukir bukan sekadar tata cara penyambutan tamu, melainkan pengakuan atas sosok yang selama puluhan tahun berjuang agar orang Papua berdiri sejajar melalui pendidikan.
Di ruang yang penuh semangat itu, Bas Suebu pun mulai bercerita, suara beratnya tenang namun penuh getaran keyakinan, tentang bagaimana semuanya bermula.
"Dulu, kita bermimpi agar anak Amungme dan Kamoro tidak hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Kita ingin mereka menjadi pengelola, menjadi ahli, menjadi pemimpin di bumi tempat mereka dilahirkan. Saat itulah gagasan Nemangkawi tumbuh, bukan sekadar sekolah, tapi tempat di mana tangan dan pikiran orang Papua ditempa menjadi kekuatan," ucap Bas, matanya menatap bangunan IPN dengan sorot mata penuh haru yang kini telah berubah menjadi kebanggaan yang meluap-luap.
Ia tidak berhenti berterima kasih. Hingga hari ini, kata Bas, hatinya penuh rasa syukur melihat PT Freeport Indonesia tetap konsisten, tak lelah, tak berhenti, terus membuka pintu bagi generasi muda Amungme, Kamoro, dan suku-suku Papua lain di sekitarnya untuk belajar, tumbuh, dan berkarya.
“Konsistensi ini adalah anugerah. Ini bukan sekadar pelatihan kerja, ini adalah pemberian martabat kepada orang Papua. Dan itu, tak ternilai harganya," tegasnya dengan suara bergetar, tanda betapa dalam rasa bangganya.
Karya Nyata Institut Pertambangan Nemangkawi Bagi Orang Asli Papua
Dan mimpi itu kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa. Berdiri sejak tahun 2003, IPN tak sekadar mengajarkan keterampilan, ia telah melahirkan ribuan tenaga profesional Orang Asli Papua.
Hingga kini, lebih dari 3.900 orang telah dilatih, dan sekitar 2.700 lulusan telah berdiri tegak bekerja di PT Freeport Indonesia maupun perusahaan-perusahaan mitranya. Lebih dari 91 persen peserta adalah Orang Asli Papua, sebuah angka yang membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan benar-benar sampai ke tangan yang tepat.
Mulai dari hanya tiga kejuruan, Mekanik Alat Berat, Operator Alat Berat, dan Pekerja Tambang Bawah Tanah, kini IPN menawarkan lebih dari 20 bidang keahlian, bahkan membuka peluang pendidikan Diploma III hingga program kerja sama dengan perguruan tinggi ternama.
Lulusannya kini mengoperasikan alat berat, memelihara mesin-mesin raksasa, mengelola administrasi, hingga menduduki posisi-posisi penting di perusahaan. Mereka bukan lagi sekadar tenaga kasar, mereka adalah tenaga ahli, pemimpin tim, bukti nyata bahwa anak Papua mampu bersaing di tingkat dunia, asalkan diberi kesempatan.
Perjuangan Bas Suebu, Seorang Pejuang Pendidikan di Tanah Papua yang Tak Pernah Padam
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan meninjau sebuah lembaga. Ini adalah perjalanan seorang pejuang yang sepanjang hidupnya berteriak lantang, pendidikan adalah jalan kemerdekaan sejati bagi Papua.
Bas Suebu tahu betul apa artinya berjuang demi ilmu, ia sendiri tak sempat menamatkan SMA, namun tekadnya begitu kuat hingga diterima di Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih melalui jalur khusus.
Ia tahu rasanya ingin maju namun terhalang akses, dan itulah yang membuatnya tak pernah berhenti membuka pintu bagi ribuan anak Papua.
Ia melahirkan program 1.000 Dokter Papua, mengirim putra-putri bumi ini ke seluruh penjuru negeri untuk belajar kedokteran, agar orang Papua sendiri yang merawat rakyatnya.
Ia membangun sekolah dan asrama di kampung-kampung terpencil, percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari kampung ke kota.
Ia menegur sistem yang membiarkan anak naik kelas tanpa benar-benar bisa membaca, karena baginya pendidikan bukan sekadar ijazah, melainkan kemampuan untuk mengubah nasib.
Ia bahkan menolak jabatan menteri di Jakarta, memilih tetap berdiri di tanah ini, berjuang untuk rakyatnya.
"Orang Papua bukan tidak pintar. Mereka hanya belum diberi kesempatan yang sama," kata-katanya yang terus bergema hingga hari ini, seakan menjadi doa dan kekuatan yang menggerakkan Nemangkawi terus melangkah maju.
Di penghujung kunjungannya, Bas Suebu menyadari satu hal, benih yang ditanam bertahun-tahun lalu kini telah tumbuh menjadi pohon yang rindang, meneduhkan dan memberi buah bagi generasi yang akan datang.
Dan perjuangan ini, tentu saja belum selesai, selama masih ada satu anak Papua yang belum mendapat kesempatan belajar, selama itu pula semangat ini akan terus menyala, tak akan pernah padam.
Sebelum beranjak meninggalkan IPN, Bas Suebu, sempat mengabadikan kedatangannya ini bersama perwakilan manajemen PTFI di depan sebuah prasasti di IPN yang di atasnya tertera tanda tangannya.
Penulis/Editor: Jimmy