Dari Grasberg Hingga Stetoskop: Komitmen Dokter Thalia Karupukaro Mengabdi Di Tanah Kelahiran dr. Aprilda Yulifa Thalia Thomas Karupukaro (salampapua.com/Foto: Dokumen pribadi dr. Thalia)

Dari Grasberg Hingga Stetoskop: Komitmen Dokter Thalia Karupukaro Mengabdi Di Tanah Kelahiran

SALAM PAPUA (TIMIKA) - Ada benih yang ditanam di tepian sungai, di bawah bayang-bayang gunung yang menyimpan harta paling dalam. Bukan sekadar logam yang dipindahkan ke negeri jauh, melainkan harapan yang berakar di tanah sendiri, agar anak-anak tanah ini kelak menjadi tuan atas kehidupannya sendiri.

Di tengah hembusan angin yang membawa aroma hutan dan sungai yang tenang, pada 19 April 2001, lahirlah seorang putri berdarah campuran, Toraja dan Kamoro. Walaupun perawakannya tampak seperti orang non-Papua, tak dapat disangkal, ia adalah orang Papua asli, perempuan sejati dari Suku Kamoro, lahir dan tumbuh besar di tanah Mimika. Namanya Aprilda Yulifa Thalia Thomas Karupukaro, permata yang lahir dari pertemuan dua budaya, namun hatinya berakar kuat di tepian sungai tanah ulayat.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Thalia, demikian ia disapa, sudah menyimpan cita-cita yang teguh, ingin menjadi dokter. Namun perjalanan hati tak selalu lurus. Saat di bangku SMA, sempat terbersit keinginan lain: tertarik mendalami ilmu geosains, menapaki jejak yang tak asing di tanah yang kaya tambang ini. Namun pada akhirnya, panggilan terdalam kembali menyapa. Pilihan hatinya tak tergoyahkan, ia ingin menjadi penyembuh.

Baginya, menempuh ilmu kedokteran adalah jalan yang menantang, namun justru di situlah jiwanya menemukan tempat pulang.

Dan di situlah jembatan itu hadir, YPMAK, lembaga yang mengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang berskala internasional yang menambang di tanah ulayat Suku Amungme, Kamoro dan lima suku kekerabatan lainnya, tempat Gunung Emas Grasberg menyimpan rahasia bumi.

Dana yang lahir dari perjuangan, dari kesepakatan agar hasil bumi tidak hanya pergi, melainkan pulang, untuk pendidikan, untuk kesehatan, untuk mempersiapkan putra-putri tanah berdiri sejajar di pentas dunia.

Thalia adalah salah satu penerus janji itu.

"Saya merasa bangga menjadi salah satu putri daerah yang mendapat beasiswa dari YPMAK," tuturnya.

Berkat beasiswa itu, gadis dari tepian sungai melangkah pergi, jauh ke Jakarta, menuju Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya.

Bukan perjalanan yang mudah. Di awal-awal masa kuliah, kesulitan datang menyapa, rindu kampung berpadu dengan tumpukan ilmu yang menuntut ketekunan tak kenal lelah. Namun Thalia memegang erat keyakinan, proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Ia memegang erat moto hidupnya seperti pelita di jalan gelap, "Dream big, work smart, stay humble."

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun. Keringat dan doa tak terhitung jatuh di atas meja belajar. Hingga akhirnya, pada 4 November 2025, hari yang dinanti tiba, ia berdiri tegak mengenakan toga, menyandang gelar Sarjana Kedokteran dengan gemilang, IPK 3,56, lulus dengan pujian (Cumlaude). Ia adalah dokter perempuan dari Suku Kamoro, sebuah terobosan, bukti nyata bahwa ketekunan dan kesetiaan pada proses membuahkan hasil yang membanggakan.

Kini, Ia sedang menjalani internship dokter di Manado, Sulawesi Utara. Di kota yang indah itu, Thalia menempa diri, dan di sana pula, kisah-kisah ringan namun bermakna mewarnai harinya.

Tubuhnya yang mungil, perawakannya yang tampak muda, kerap menipu mata para pasien. Meski sudah mengenakan seragam lengkap, stetoskop tergantung di leher, dan nama dokter tertera jelas di dada, banyak yang tak menyangka gadis kecil ini adalah dokter yang merawat mereka.

"Sering orang salah kaprah, mungkin saya badan kecil ya, tidak ada aura dokter mungkin. Jadi orang pikir saya hanya perawat. Makanya pasien sering bertanya mana dokternya? Padahal saya sudah ada di situ, sudah pegang stetoskop, sudah pakai baju dokter, sudah ada nametag," ujarnya sambil tertawa renyah.

Thalia tak pernah membantah dengan kemarahan. Ia tetap tenang, tetap merawat dengan tulus, menjelaskan dengan sabar. Lama-kelamaan, keraguan itu luruh berganti hormat. Mereka akhirnya paham, bukan perawakan yang menjadikan seseorang dokter, melainkan ilmu, ketulusan, dan hati yang besar.

Janji Pulang Mengabdi di Tanah Kelahiran

Di sela-sela kesibukan jaga malam di rumah sakit Manado, bayangan kampung halaman tak pernah hilang. Janji telah terpatri di dada, suatu hari nanti, setelah selesai masa magangnya, ia akan kembali ke tanah kelahirannya, ke Kabupaten Mimika.

"Ini sebagai balas budi saya atas beasiswa dari YPMAK, dimana dana YPMAK yang bersumber dari PT Freeport Indonesia yang mengelola pertambangan di gunung grasberg, yang merupakan bagian dari tanah ulayat suku Amungme, Kamoro dan 5 suku kekerabatan lainnya. Makanya nanti saya pasti kembali ke Mimika untuk melayani sebagai dokter."

Alasannya sederhana namun dalam, karena Ibunya berasal dari Suku Kamoro, dan ia lahir serta tumbuh besar di Mimika. Matanya tak buta melihat kenyataan, pelayanan kesehatan di daerah pesisir, termasuk di kampung Mioko, tempat asal Ibunya, maupun di wilayah pegunungan Mimika, masih jauh dari cukup. Kekayaan yang digali dari perut bumi harus kembali mengalir untuk kehidupan anak-anak pemilik tanah.

Itulah makna sejati dari semboyan besar: Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri. Bukan sekadar slogan. Kekayaan dari tanah ini kini berbuah putri yang mampu mengobati sesamanya, bukti bahwa pemilik tanah akhirnya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, merawat bangsanya sendiri.

Pesan untuk Putra-Putri Papua

Bagi putra-putri asli Papua lainnya, Thalia mengirim pesan yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam,

"Jangan pernah merasa bahwa perjalanan hidup ini terlalu berat. Tetap jalani dengan semangat, memiliki tujuan yang jelas, bekerja keras, dan tetap tekun menjalani proses, maka pasti akan menggapai hasil yang maksimal. Ingat bahwa kita sedang membawa harapan besar untuk keluarga, untuk diri sendiri, dan untuk daerah kita sendiri. Kita bukan hanya mengejar gelar, tapi kita sedang mempersiapkan diri untuk membawa perubahan bagi Kabupaten Mimika, tanah kita sendiri."

Di antara langkah kecil yang penuh makna itu, berjalanlah dokter Aprilda Yulifa Thalia Thomas Karupukaro, gadis mungil dari suku Kamoro, bermimpi besar, bekerja cerdas, tetap rendah hati. Ia pulang membawa harapan, membuktikan bahwa bumi Mimika tak hanya memberi harta bagi negeri, melainkan melahirkan putri yang mampu menyembuhkan negeri.

Penulis: Jimmy Rungkat