SALAM PAPUA (SERANG) – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 2025–2030, Akhmad Munir, menegaskan kolaborasi semua pihak dibutuhkan dalam pembinaan kompetensi wartawan di seluruh Indonesia khususnya di Papua secara keseluruhan.

Terkait pembinaan wartawan di Papua, Akhmad menyampaikan bahwa PWI memiliki cabang di seluruh provinsi, termasuk Papua Tengah. Karena itu, PWI Pusat memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong penguatan kapasitas wartawan di wilayah tersebut.

“Kami akan terus mendorong Papua Tengah untuk memperbanyak wartawan muda, meningkatkan sertifikasi wartawan, serta melakukan konsolidasi bersama PWI Papua induk,” terangnya kepada Salampapua.com di Serang, Banten, Senin (9/2/2026), usai rangkaian HPN 2026.

Ia menambahkan, konsolidasi tersebut penting dilakukan secara bersama agar pembinaan lebih terarah dan efektif. Pertemuan dapat digelar di sejumlah kota di Tanah Papua seperti Sorong, Jayapura, Manokwari, Merauke, atau Wamena.

“Kalau harus kunjungi satu per satu tentu cukup berat. Jadi kita konsolidasikan bersama,” katanya.

Akhmad juga menyambut baik dukungan berbagai pihak dalam penyelenggaraan HPN 2026, salah satunya PT Freeport Indonesia yang menjadi satu kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pengembangan wartawan, khususnya dari Papua. Sebanyak 10 jurnalis Papua yang hadir dalam HPN 2026 difasilitasi oleh PT Freeport Indonesia.

“Dukungan kolaborasi sangat dibutuhkan, baik dari pemerintah maupun swasta, sehingga pembinaan wartawan bisa berjalan lebih optimal,” tambahnya.

Ketua PWI juga menekankan bahwa Hari Pers Nasional (HPN) 2026 bukan hanya ajang silaturahmi insan pers dari seluruh Indonesia, tetapi juga momentum untuk merefleksikan dan memperkuat kembali nilai-nilai jurnalisme.

“HPN bukan sekadar pertemuan tahunan. Ini momentum untuk merefresh nilai-nilai jurnalisme dan nilai-nilai kewartawanan kita,” ujar Akhmad.

Menurutnya, nilai perjuangan dalam dunia kewartawanan merupakan warisan sejarah yang harus terus dirawat di tengah berbagai perubahan, baik disrupsi media, teknologi, maupun model bisnis.

“Dalam perubahan apa pun, nilai perjuangan itu harus terus melekat dalam diri wartawan Indonesia,” tegasnya.

Penulis/Editor: Sianturi