SALAM PAPUA (TIMIKA) - Salah satu ibu rumah tangga, warga Kelurahan Pasar Sentral RT 8 Timika, Armeliana mengkhawatirkan maraknya kasus pelecehan anak yang terjadi di Timika, baik di lingkungan pendidikan maupun di rumah.
Kami harus lebih ekstra dalam memberikan pengawasan pada anak kami baik di lingkungan sekolah atau rumah, ujarnya kepada salampapua.com, Rabu (8/11/2023).
Senada dengan Armeliana, seorang ibu yang anaknya masih duduk di bangku kelas 3 SD, Silfani Futunanembun menuturkan kekhawatirannya karena tingginya kasus pelecehan dan kekerasan pada anak justru terjadi di lingkungan pendidikan.
Sebenarnya kalau di rumah kita bisa perhatikan, tapi di sekolah ini yang saya takutkan, seharusnya kan kasus seperti ini tidak harus terjadi di lingkungan pendidikan, ucapnya.
Sementara itu Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mimika, Andarias Nao mengatakan, banyak faktor pendorong terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Contohnya seperti faktor kelainan seksual dalam diri pelaku hingga minimnya pemahaman korban dan orang-orang terdekatnya seperti orang tua korban terkait batasan-batasan kekerasan seksual tersebut.
Kasus ini memang sangat rentan terjadi dan tidak terduga karena pelakunya banyak dari kalangan terdekat korban, seperti paman, sepupu bahkan orang tua sendiri seperti kasus yang sedang kita tangani ini. Ada anak yang dicabuli ayah angkatnya, ujarnya saat dihubungi salampapua.com, Rabu (8/11/2023).
Selain itu, ujar dia, lemahnya pengawasan orang tua terutama peran ibu menjadikan anak rentan menjadi korban kekerasan seksual. Korban perbuatan asusila, menurut dia tidak mengenal jenis kelamin.
"Anak laki-laki pun sekarang juga menjadi sasaran. Ini terkait kelainan seksual pada diri pelakunya, seperti pedofilia, ungkapnya.
Penulis: Evita
Editor: Jimmy